Sosok Guru Inspiratif di indonesia yang Patut Diteladani, Guru merupakan sosok pahlawan tanpa tanda jasa, jasanya yang sangat besar. Guru bisa dianggap sebagai orang tua saat kita berada di sekolah sehingga mereka juga harus dihormati selayaknya orang tua

Guru tidak akan pernah merasa lelah untuk mengajar muridnya, mereka pasti menjalankan tugasnya dengan tulus dan ikhlas. Guru akan sangat bahagia ketika mengetahui anak didiknya menjadi pintar baik dari sisi akademis maupun budi pekerti.

Menjadi seorang guru merupakan profesi yang sangat mulia yang membentuk karakter, kualitas, dan masa depan seseorang. Pendidikan merupakan pintu peradaban dunia. Pintu tersebut tidak akan terbuka kecuali dengan satu kunci. Yakni, seorang atau sosok guru yang peduli dengan peradaban dunia.

Sosok Guru Inspiratif di indonesia yang Patut Diteladani

Berikut ini merupakan sosok guru inspiratif yang telah dirangkum dari berbagai sumber, diantaranya adalah sebagai berikut:

Ki Hajar Dewantara

Dengan nama lengkap Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara, beliau merupakan pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Ki Hajar Dewantara yang dijuluki Bapak Pendidikan Nasional. Beliau  adalah seorang pejuang kemerdekaan yang juga mendedikasikan hidupnya mempelopori pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia di zaman penjajahan Belanda.

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 dengan nama RM Soewardi Soerjaningrat. Merupakan cucu dari Sri Paku Alam III dan ayahnya bernama GPH Soerjaningrat.

Beliau adalah seorang bangsawan Jawa, Soewardi Soerjaningrat mengenyam Pendidikan Europeesche Lagere School (ELS), sekolah rendah untuk anak-anak Eropa.

Sebagai figur dari keluarga bangsawan Pakualaman, Ki Hajar Dewantara memiliki kepribadian yang sederhana dan sangat dekat dengan rakyat (kawula). Jiwanya menyatu melalui Pendidikan dan budaya lokal (Jawa) guna mencapai kesetaraan sosial-politik dalam masyarakat kolonial.

Profesi yang digeluti oleh Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) adalah dunia jurnalisme yang berkiprah di beberapa surat kabar dan majalah pada waktu itu: Sediotomo, de Express, Oetoesan Hindia, Midden Java, Tjahaja Timoer, Kaoem Moeda, dan Poesara yang melontarkan kritik sosial-politik kaum bumiputera kepada penjajah.

Ki Hajar Dewantara juga merupakan seorang penulis terkenal. Tulisannya yang tajam dan patriotik membuatnya mampu membangkitkan semangat anti kolonial bagi pembacanya.

Ki Hajar Dewantara mencurahkan perhatian di bidang Pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Perguruan Taman Siswa sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.

Sosok Ki Hajar Dewantara ini terinspirasi ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori yang membuatnya ingin mengembangkan sistem pendidikan sendiri di Indonesia.

Perjuangan Ki Hajar Dewantara belum selesai untuk mendidik penerus bangsa, namun ia sudah wafat terlebih dahulu pada 26 April 1959 dan dimakamkan di pemakaman keluarga Taman Siswa Wijaya Brata, Yogyakarta.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani yang menjadi slogan Kementerian Pendidikan.

Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika atau Dewi Sartika merupakan tokoh pejuang wanita yang berasal dari Cicalengka, Bandung. Beliau dikenal sebagai tokoh Jawa Barat yang menjadi perintis pendidikan bagi kaum perempuan.

atau Dewi Sartika mendirikan sekolah bagi kaum perempuan bernama Sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung.

Dewi Sartika dibesarkan oleh seorang priyayi (kelas bangsawan) Sunda yaitu Raden Somanagara. Ibunya juga merupakan perempuan Sunda yang bernama Nyi Raden Ayu Rajapermas. Kedua orangtua Dewi Sartika juga merupakan pejuang Indonesia yang menentang pemerintah Hindia Belanda.

Akibatnya, mereka mendapat hukuman keras dari pemerintah Hindia Belanda, diasingkan ke Ternate dan terpisah dari Dewi Sartika. Setelah kedua orang tua Dewi Sartika meninggal, dia diasuh oleh pamannya yang merupakan kakak kandung dari Ibundanya, yang bernama Aria. Ia merupakan seorang patih di Cicalengka. Dari sang Paman, Dewi Sartika mendapatkan ilmu pengetahuannya terkait adat budaya sunda.

Selain itu, seorang Asisten Residen berkebangsaan Belanda juga mengajarkan Dewi Sartika tentang budaya dan adat bangsa Barat.

Minat Dewi Sartika terhadap dunia pendidikan sudah terlihat sejak masih anak-anak. Dia seringkali bermain guru-guruan dengan anak seusianya. Karena mahir membaca dan menulis, Dewi Sartika sering berperan sebagai guru. Dewi Sartika juga memiliki kemampuan berbahasa Bahasa Belanda.

Pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika mulai mendirikan sekolah. Hal ini juga mendapatkan dukungan dari Kakeknya, Raden Agung A Martanegara dan seorang Inspektur Kantor Pengajaran, Den Hamer.

Sekolah Isteri hanya memiliki 20 murid wanita. Di sekolah itu, para wanita tidak hanya sekadar belajar membaca, menulis dan berhitung. Mereka turut belajar menjahit, merenda dan belajar agama.

Dewi Sartika hidup bersama warga dan pejuang di Sunda saat memasuki usia senja. Pada 1947, Belanda kembali melakukan serangan agresi militer. Dewi Sartika bersama seluruh rakyat pribumi dan pejuang lainnya ikut melawan untuk membela tanah air. Seluruh penduduk kemudian mengungsi untuk mempertahankan Indonesia.

Saat berada di pengungsian, pada 11 September tahun 1947, Dewi Sartika mengembuskan napas terakhirnya di Tasikmalaya. Karena masih dalam situasi perang, pemakaman dan upacara dilakukan secara sederhana. Pemakaman Cigagadon yang ada di Desa Rahayu, Kecamatan Cineam adalah makam dari Dewi Sartika.

Usai perang agresi militer, sekitar tahun 1950, makam Dewi Sartika dipindahkan ke kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jl. Karang Anyar – Bandung. Sesuai SK Presiden RI Nomor 152 Tahun 1966, Dewi Sartika mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional, tepatnya pada tanggal 1 Desember 1966. Saat itu juga, Sekolah Keutamaan Isteri berusia 35 tahun dan mendapat gelar Orde van Oranje-Nassau.

Pak Kasur dan Ibu Kasur

Soerjono atau biasa dipanggil Pak Kasur (26 Juli 1912 – 26 Juni 1992) adalah seorang tokoh pendidikan Indonesia. Ia juga memandu acara Taman Indria di TVRI stasiun pusat Jakarta. Namanya berasal dari julukan “Kak Soer” yang biasa digunakan oleh anak buahnya di Gerakan Kepanduan. Nama ini lama-lama berubah menjadi “Kasur” dan “Pak Kasur”. Istrinya Ibu Kasur (Sandiah) juga memandu acara itu.

Nama Pak Kasur dan Ibu Kasur dikenal sebagai tokoh legendaris guru di Indonesia. Pak Kasur bernama asli Soerdjono sementara Ibu Kasur bernama asli Sandiah. Keduanya menikah pada tahun 1946 di Yogyakarta. Pak Kasur dan Ibu Kasur mengasuh siaran anak-anak di RRI Jakarta.

Pak Kasur dan Ibu Kasur adalah pelopor pendidikan prasekolah di Indonesia. Kecintaan pasangan ini pada dunia anak-anak mendorong berdirinya sebuah taman kanak-kanak. Pada 1968, setelah Pak Kasur pensiun, Taman Kanak-kanak Mini di rumah mereka di Jalan H. Agus Salim, Jakarta, diresmikan.

Ide pendidikan ini pernah diungkapkan Pak Kasur terinspirasi dari pendidikan anak-anak di Belanda. Salah satu konsep pendidikan yang dikenalkannya di indonesia yakni membiarkan anak-anak berkegiatan secara mandiri sesuai apa yang mereka imajinasikan.

Pak Kasur dan Ibu Kasur juga gemar menciptakan lagu anak-anak. Pak Kasur menciptakan sekitar 140 lagu anak-anak, sementara Bu Kasur mengarang 20 lagu. Salah satu lagu ciptaannya yang terkenal berjudul “Sayang Semua”, “Sepedaku”, “Balonku”, “Dua Mata Saya”, “Lihat Kebunku” dan masih banyak lagi.

Kak Seto

Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si. (lahir 28 Agustus 1951) atau biasa dikenal sebagai Kak Seto adalah psikolog anak dan pembawa acara televisi untuk anak-anak bersama dengan Henny Purwonegoro. Ia juga menjabat ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia.

Seto Mulyadi memiliki seorang saudara kembar laki-laki bernama Kresno Mulyadi yang adalah seorang psikiater anak di Surabaya, dan satu-satunya seorang kakak bernama Maruf Budiharjo Mulyadi.

Kak Seto atau Seto Mulyadi dikenal karena kerap kali membawakan acara di Televisi bertema anak-anak. Banyak yang belum tahu, sebelumnya Kak Seto pernah mengikuti tes kedokteran di beberapa universitas ternama, telah melakukan berapa kali tes percobaan tidak diterima, tetapi Kak Seto tidak pantang menyerah, beliau tetap mencoba mendaftar sampai pada akhirnya beliau nekat pindah ke Jakarta melanjutkan hidupnya.

Bahkan beliau bercerita beliau sempat menjadi gelandangan, tetapi hidup beliau berubah semenjak bertemu Pak Kasur dan menjadi asisten di Taman kanak-kanak tersebut. Beliau, selalu membantu Pak Kasur melaksanakan pembelajaran dengan anak-anak.

Pak Kasur melihat ada potensi pada Kak Seto, pada akhirnya beliau menjadi mahasiswa fakultas psikologi, dan mendaftar jenjang Pendidikan S2 dan S3 Psikologi Pendidikan.

Kini, Beliau dikenal sebagai sahabat anak dan beliau juga mendirikan sekolah alternatif bernama Homeschooling pada tahun 2007 yang diselenggarakan di rumah yang merupakan sekolah alternatif.

Een Sukaesih

Een Sukaesih dikenal karena kegigihannya memberi pengajarannya kepada para siswa di tengah sakit lumpuh yang dideritanya.

Sosok pahlawan tanpa tanda jasa itu bernama Een Sukaesih, lahir di Sumedang pada 10 Agustus 1963. Dia lulusan IKIP Bandung yang sekarang dikenal sebagai UPI Bandung. Guru difabel ini pernah menjadi salah satu sosok paling inspiratif yang pernah dimiliki dunia pendidikan Indonesia.

10 Agustus 1963 ini menderita penyakit Rheumatoid arthritis (RA).  Itu merupakan penyakit autoimun kronis dan progresif yang membuat seluruh tubuhnya lumpuh sejak usianya 24 tahun.

Penyakit rheumatoid arthritis yang menyerang tubuh beliau yang mengakibatkan sendi-sendi tubuh Een menjadi bengkak dan kaku. Akibatnya Een tidak bisa bergerak dan hanya bisa berbaring di tempat tidur selama 30 tahun.

Keterbatasan yang dimiliki Een rupanya tak menghalangi impiannya untuk menjadi seorang guru. Een bukan sosok yang gampang menyerah. Dengan pengetahuan yang dimiliki, dia mewujudkan mimpi menjadi guru. Dia mengajar anak-anak di sekitar tempat tinggalnya, di Dusun Batu Karut, RT 01 RW 05 Cibeureum Wetan, Cimalaka, Sumedang, Jawa Barat.

Een menerangkan pelajaran sambil berbaring di atas dipan. Een hanya bisa memberi penjelasan secara lisan, karena tangannya tidak bisa digerakkan. Sumber kekuatannya untuk tetap bertahan adalah dari anak-anak didiknya.

Een menghembuskan nafas terakhir pada Jumat 12 Desember 2014 di usia 51 tahun. walaupun telah tiada, namun kisah hidup Beliau  yang penuh inspirasi menjadi teladan bagi banyak orang.

Een bahkan pernah memberikan petuah kepada para pendidik di Tanah Air, bahwa kunci keberhasilan pendidikan adalah kasih sayang dan penuh keyakinan. “Saat mendapati masalah yakinlah, sebenarnya tengah dipersiapkan-Nya tuk menjadi sosok yang tegar dan berani,” demikian petuah Een semasa hidupnya.

Itulah beberapa informasi Sosok Guru Inspiratif di indonesia yang Patut Diteladani, semoga menginspirasi. Seorang guru yang baik dapat menginspirasi harapan, memicu imajinasi, dan menanamkan kecintaan pada pembelajaran.

(gramedia.com, pusakaindonesia.org, merdeka.com)