Senang Melihat Orang Lain Susah, Hati-hati Tanda Gangguan Mental Schadenfreude, Schadenfreude adalah kata majemuk dari kata Schaden, yang berarti kerugian, dan Freude, yang berarti sukacita. Hal tersebut menunjukkan bahwa iri hati memainkan peran penting dalam membangkitkan perasaan Schadenfreude.

Kurangnya rasa empati pada sesama juga bukan berarti kamu mengidap gangguan kejiwaan tertentu. Namun, schadenfraude bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Senang Melihat Orang Lain Susah, Hati-hati Tanda Gangguan Mental Schadenfreude

Sebuah penelitian dari Emory University menyatakan terlalu sering atau sangat suka melihat orang lain susah menunjukkan kecenderungan ciri psikopati.

Gangguan psikopati bisa membuat kamu menghalalkan berbagai cara untuk membuat orang lain sakit atau tertimpa kemalangan tanpa merasa menyesal.

Schadenfreude

Dalam ilmu psikologi fenomena ini disebut dengan istilah Schadenfreude. Merriam-Webster mendefinisikannya sebagai, “kenikmatan yang diperoleh dari masalah orang lain”. Istilah ini berasal dari kata Jerman “schaden,” yang berarti kerusakan, dan “freude” yang berarti kegembiraan.

Dalam jurnal Social and Personality Psychology Compass tahun 2009 penelitian mengungkapkan ada setidaknya tiga kondisi yang biasanya muncul dan mendorong terjadinya schadenfreude.

Senang Melihat Orang Lain Susah, Hati-hati Tanda Gangguan Mental Schadenfreude

  1. Schadenfreude yang muncul sebagai akibat keuntungan pribadi.
    Seperti ketika kita sedang dalam situasi persaingan ujian dengan teman sekelas, dan apabila ada teman yang gagal, secara alami kita merasa senang karena kegagalannya memberi kita keuntungan, yang menjadikan kita ada di peringkat yang lebih tinggi dari dia. Kegagalan yang teman kita dapatkan justru memberi kita keuntungan.
  2. Schadenfreude yang timbul karena kemalangan menimpa orang yang layak
    Jika faktor pertama lebih berhubungan dengan kebutuhan pribadi, untuk yang ini lebih layak disebut wajar. Misalnya, ketika melihat koruptor di penjara, timbul perasaan puas dalam diri kita. Karena, kita tahu penjahat harus mendapatkan ganjaran yang sesuai dengan kejahatannya.
  1. Schadenfreude Akibat Iri hati
    Rasa iri bisa menyebabkan schadenfreude. Memang tidak selalu kelebihan orang membuat kita iri. Namun, saat kita merasa iri terhadap seseorang, situasi ini sangat berpotensi besar bikin kita senang melihat orang tersebut tertimpa kesusahan.

Schadenfreude adalah perasaan orang merasa senang dengan ketidakberuntungan orang lain ketika ketidakberuntungan ini memberi mereka perbandingan sosial yang meningkatkan perasaan harga diri mereka atau menghilangkan dasar perasaan iri hati yang menyakitkan.

Schadenfreude mungkin bukan jenis kesenangan yang tidak lazim meskipun tidak sesederhana kelihatannya. Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan teori appraisal (Appraisall Theory), yaitu teori dalam psikologi yang menyatakan bahwa emosi diekstraksi dari evaluasi individu terhadap peristiwa yang menyebabkan reaksi spesifik pada orang yang berbeda.

Pada dasarnya, penilaian individu terhadap suatu situasi menyebabkan respons emosional, atau afektif, yang akan didasarkan pada penilaian itu.

Dalam tiga puluh tahun terakhir, sejumlah psikolog melakukan berbagai penelitian guna mencari tahu asal muasal terciptanya “sisi gelap” manusia tersebut. Tapi sampai hari ini belum ada temuan yang disepakati bersama. Salah satu penelitian tersebut dimulai dengan menelusuri proses terciptanya kata schadenfreude.

Makalah “Schadenfreude Deconstructed and Reconstructed : A Tripartite Motivational Model” yang terbit dalam New Ideas of Psychology (2018) memaparkan ada beberapa faktor pemicu schadenfreude.

faktor pemicu schadenfreude:

  1. Rasa iri.
    Orang cenderung tidak mendukung sosok yang terlalu gemilang
    Memiliki latar belakang pendidikan, jabatan, harta yang nampak berlebihan. Penelitian ini pernah menguji penilaian orang terhadap satu orang sukses yang mengalami kejadian buruk dan nasibnya berubah 180 derajat. Responden menganggap kegagalan adalah sesuatu yang layak didapat oleh seorang “over achiever” atau “highly achiever”.
    Dan mereka puas melihat kegagalan menimpa orang sukses. Rasa iri yang berdampak pada schadenfreude ini muncul karena ada perasaan inferior dalam pribadi seseorang. Gejala schadenfreude akan semakin terlihat bilamana jarak antara superioritas dan inferioritas semakin besar.
  2. Sikap kompetitif di dalam grup.
    Riset ini menyebut bahwa individu yang terikat dalam sebuah kelompok sangat mungkin menganggap rekan sesamanya sebagai lawan.
  3. Bila individu terdiagnosis mengalami gangguan mental psikopat.
    Penelitian ini mengutip pendapat Heilbrun yang menyebut psikopat mengalami kesenangan bila melihat penderitaan orang lain atau korban kejahatannya.
  4. Bila individu memiliki perpaduan elemen psikopat, narsistik, dan machiavellianism
    sifat mementingkan diri sendiri dan melakukan tindakan manipulatif demi mencapai tujuan. Paduan sifat-sifat tersebut bisa membuat orang antusias terhadap aksi kekerasan yang bisa dilihat dari berbagai tayangan video atau program televisi.
  5. Orang yang kurang atau tidak percaya diri.
    Sifat tidak percaya diri membuat seseorang menjadikan tindak schadenfreude sebagai alat untuk meningkatkan rasa percaya diri lewat perbandingan dengan orang lain yang nasibnya lebih buruk.
  6. Gangguan depresi
    Para pengidap gangguan depresi juga rentan terhadap aksi schadenfreude.

Menurut penelitian, “Mereka yang mengalami schadenfreude tertawa lebih keras dan merasa lebih bahagia ketimbang mereka yang merasa senang. Perasaan senang melihat orang lain susah ini juga bisa dikaitkan dengan produksi hormon oksitosin dalam tubuh. Scientific American pernah memuat hasil penelitian yang menyebut hormon oksitosin memiliki potensi dalam membuat seseorang merasa iri atau bersikap schadenfreude.

Source: kumparan.com. hellosehat.com