Perbedaan Maag dan Asam Lambung (Gerd) , Asam Lambung (Gerd )dan Maag mempunyai gejala yang mirip, ternyata kondisi maag dan asam lambung itu Berbeda.

Perbedaan Maag dan Asam Lambung (Gerd)

Tidak jarang, banyak orang yang mengira keduanya adalah penyakit yang sama, meskipun sama-sama menyerang lambung dan mempunyai gejala mual, muntah, dan nyeri pada lambung, kedua penyakit ini ternyata berbeda.

Definisi Maag dan Asam Lambung (Gerd)

Penyakit Maag adalah ketika volume lapisan lendir tebal yang melindungi lambung mengalami penurunan, sehingga asam pencernaan menggerogoti jaringan yang melapisi perut. Dua kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi parah tanpa perawatan yang tepat.

Sedangkan Penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) adalah munculnya rasa terbakar di dada akibat asam lambung naik ke kerongkongan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya iritasi pada esofagus. Gejala penyakit asam lambung muncul minimal 2 kali dalam seminggu.

Perbedaan Maag dan Asam Lambung (Gerd)

Menurut ahli, maag berbeda dengan GERD. Maag didefinisikan sebagai nyeri atau ketidaknyamanan epigastrium kronis atau sering berulang, yang diyakini berasal dari daerah gastroduodenal. Maag dapat dikaitkan dengan gejala gastrointestinal bagian atas lainnya, seperti rasa penuh di area perut dan rasa kenyang dini.

Maag atau secara medis dikenal dengan istilah gastritis merupakan peradangan, iritasi, atau erosi yang terjadi pada lapisan lambung. Kondisi ini dapat terjadi tiba-tiba (akut) atau kronis.

Sedangkan, GERD atau asam lambung merupakan penyakit saluran cerna bagian atas yang terjadi karena asam lambung dengan derajat keasaman yang tinggi naik ke kerongkongan. Gejala GERD dan sakit maag memang hampir mirip, yaitu menyebabkan nyeri pada ulu hati, mual, dan muntah.

Perbedaan Maag dan Asam Lambung (Gerd)

Perbedaan

 

Maag

 

Asam Lambung (Gerd)

 

Gejala

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Cepat merasa kenyang saat makan dan rasa kenyang berkepanjangan setelah makan.
  • Mual.
  • Kembung pada perut bagian atas.
  • Sering bersendawa.
  • Nyeri pada ulut hati dan nyeri di tengah dada yang muncul ketika atau setelah makan.
  • Rasa panas pada perut bagian atas.
  • Sakit maag yang sering terjadi biasanya ditandai dengan gejala rasa panas di dalam dada akibat naiknya asam lambung ke bagian kerongkongan.
  • Stress

 

 

 

  • Nyeri, rasa panas/ terbakar, ataupun rasa tidak nyaman pada perut bagian atas (ulu hati)
  • Rasa mudah kenyang saat makan
  • Rasa kenyang/ penuh berlebihan setelah makan
  • Mual atau muntah
    kembung
  • Keluhan berulang pada mereka yang berusia di atas 55 tahun
  • Penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya
  • Kesulitan menelan
  • Muntah berulang
    disertai anemia defisiensi besi
  • Adanya benjolan pada area perut
  • adanya muntah darah atau BAB darah

 

 

 Penyebab

Penyebab maag dapat disebabkan oleh:

  • Adanya masalah emosional, seperti kecemasan atau depresi.
  • Infeksi bakteri Helicobacter pylori.
  • Efek samping penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid.
  • Terlalu banyak makan.
  • Kelebihan berat badan.
  • Makan terlalu cepat.
  • Mengonsumsi makanan berminyak, berlemak dan pedas.
  • Terlalu banyak mengonsumsi minuman berkafein dan soda.
  • Mengonsumsi cokelat berlebihan.

 

Penyebab GERD bisa dikarenakan oleh

  • Berat badan berlebih
  • Merokok, konsumsi alkohol,
  • Kehamilan,
  • atau konsumsi obat-obatan tertentu
  • Genetik
  • Hiatal hernia
  • Makanan berminyak, seperti kentang goreng atau makanan cepat saji
  • Makanan manis, seperti cokelat, permen, atau kue bergula
  • Makanan asin, contohnya makanan kemasan
  • Makanan pedas, baik cabai maupun lada
  • Minuman yang asam, seperti air jeruk nipis
  • Minuman berkafein, seperti kopi, teh, minuman bersoda, dan cokelat
    Minuman beralkohol

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Maag merupakan gangguan pencernaan yang terjadi dari kerusakan di dinding lambung. Kerusakan yang terjadi bisa berupa iritasi, luka, maupun adanya benjolan seperti bisul pada lambung.

Sakit maag alias dispepsia adalah rasa nyeri dan tidak nyaman pada lambung yang disebabkan oleh sejumlah kondisi. Jadi, sakit maag bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala dari penyakit. Umumnya, sakit maag disebabkan oleh luka terbuka yang terjadi di lapisan dalam lambung (tukak lambung), infeksi bakteri Helicobacter pylori, efek samping konsumsi obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) dan stres.

Sakit maag yang sering terjadi biasanya ditandai dengan gejala rasa panas di dalam dada akibat naiknya asam lambung ke bagian kerongkongan. Stres pun membawa dampak menjadi lebih negatif bagi pengidap sakit maag.

Dalam keadaan normal, makanan seharusnya masuk ke mulut menuju sfingter esofagus bagian bawah, dan menutup saat makanan sudah masuk ke lambung untuk mencegah naiknya makanan atau asam lambung kembali ke esofagus. Di sana makanan umumnya bertahan selama tiga hingga empat jam untuk dicerna.

Namun pada kasus GERD terdapat kelainan berupa terlalu kendur (relaksasi) atau lemahnya sfingter esofagus bagian bawah sehingga makanan yang sudah ditampung di lambung naik kembali ke kerongkongan atau bisa saja hanya berupa cairan asam lambungnya.

Ketika asam lambung atau makanan naik kembali ke kerongkongan, umumnya penderita mengalami sensasi terbakar atau panas di dadanya. Seseorang dapat mengalami GERD ringan setidaknya 2 kali dalam seminggu dan GERD sedang sampai berat setidaknya 1 kali dalam seminggu.

Gangguan yang cukup berat dan mengganggu aktivitas serta tidur juga bisa menjadi indikasi GERD. Jika tidak ditangani dengan baik, maka dapat timbul komplikasi yang bisa merugikan Anda. Misalnya peradangan pada esofagus (esofagitis) yang dapat menyebabkan perdarahan, luka, tukak, hingga jaringan parut pada esofagus.

Jaringan parut ini dapat membuat esofagus menjadi lebih sempit yang selanjutnya akan mengganggu proses menelan. Di antara 10-15% penderita GERD yang berkepanjangan dapat memicu masalah kesehatan yang lebih serius. Salah satunya adalah Barrett’s esofagus yang bisa menjadi kanker esofagus di kemudian hari.

Melansir dari laman International Foundation for Gastrointestinal Disorders, GERD juga bisa hadir tanpa merusak saluran kerongkongan. Sekali pun mengalami iritasi atau luka, biasanya tingkat keparahan GERD dan peradangan pada kerongkongan tergantung pada beberapa hal.

Mulai dari frekuensi atau seberapa sering terjadinya kenaikan asam lambung, lama waktu asam lambung berada di kerongkonga, hingga jumlah asam tersebut. Jadi singkatnya, penyebab GERD yakni ketika otot sfringter di bagian bawah kerongkongan melemah dan terbuka, ketika seharusnya tertutup.

Jika Anda merasa memiliki satu atau lebih dari faktor risiko tersebut, penanganan dan perubahan gaya hidup sedini mungkin bisa membantu mencegah Penyakit maag dan GERD. Demikian artikel tentang Perbedaan Maag dan Asam Lambung (Gerd), semoga bermanfaat.

source:klikdokter.com, hellosehat.com, halodoc.com

 

Read previous post:
blogspot atau wordpress
Blogspot Atau WordPress?

Close