Hari Bandung Lautan Api 2021, Pada tanggal 23 Maret adalah Peristiwa Bandung Lautan Api  dan peristiwa tersebut diperingati  setiap tanggal 24 Maret, Pemkot Bandung akan mengadakan upacara pada tanggal 24 Maret 2021 yang ke -75 di Plaza Balai Kota Bandung dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Hari Bandung Lautan Api 2021

Upacara peringatan Bandung Lautan Api ini menjadikannya yang pertama di tengah pandemi Covid-19,  pasalnya, pada tahun  2020 upacara Bandung Lautan Api tidak digelar karena pandemi yang mulai melanda Indonesia.

Tema  Bandung Lautan Api 2021

Dalam rangka peringatan hari bersejarah Bandung Lautan api tahun 2021 yang ke-75 Tahun bertema “Melalui Peringatan Bandung Lautan Api Kita Gelorakan Semangat Kolaborasi Melawan Pandemi Covid-19”.

Logo Bandung Lautan Api 2021

Logo Bandung Lautan Api 2021

Logo Bandung Lautan Api 2021

Filosofi Logo:

  • Berbentuk angka 7 dan 5 menunjukkan bahwa peristiwa Bandung Lautan api telah menginjak usia yang ke 75 Tahun
  • Bagian tengah lingkaran pada angka 5 bergambar api dan Covid-19 menunjukkan bahwa warga Kota Bandung bersama-sama membumihanguskan Covid-1
  • Angka 7 dan 5 terbagi dua menunjukkan bahwa membumi hanguskan Covid-19 berjalan beriringan antara warga dan Pemerintahan Kota Bandung.

Peringatan Bandung Lautan Api 2021

Saat ini pandemi Covid-19 belum berakhir, oleh karena itu acara tersebut akan dibatasi jumlah peserta yaitu sekitar 100 orang yang hadir pada kegiatan tersebut. Sebanyak 100 peserta itu terdiri dari TNI, POLRI, perwakilan LVRI, ASN, petugas upacara dan beberapa tamu undangan.

Selain upacara, Pemkot Bandung juga akan melakukan serangkaian acara peringatan BLA antara lain ziarah ke taman makan pahlawan, melakukan bersih-bersih di tempat bersejarah, dan mengedukasi melalui pembelajaran jarak jauh pemutaran film bandung lautan api bagi peserta didik.

Sejarah Bandung Lautan Api

Peristiwa Bandung Lautan Api terjadi tanggal 23 Maret 1946. Salah satu titik penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia ini ditandai dengan pengosongan dan pembakaran Bandung oleh rakyat dan tentara agar tidak dijadikan markas pasukan Sekutu dan NICA (Belanda).

Aksi bumi hangus di Bandung dipandang sebagai taktik yang dirasa paling ideal dalam situasi saat itu karena kekuatan pasukan Republik Indonesia tidak sebanding dengan kekuatan Sekutu dan NICA.

Bandung Lautan Api menjadi salah satu peristiwa paling heroik dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan diabadikan dalam berbagai bentuk karya seni, seperti lagu atau film.

Latar Belakang dan Penyebab

Djoened Poesponegoro dan kawan-kawan dalam Sejarah Nasional Indonesia VI (2008) menuliskan bahwa peristiwa Bandung Lautan Api diawali dengan datangnya pasukan Sekutu/Inggris pada 12 Oktober 1945.

Beberapa pekan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, pasukan Sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) datang ke Indonesia usai memenangkan Perang Dunia II melawan Jepang.

Mohamad Ully Purwasatria dalam penelitian bertajuk “Peranan Sukanda Bratamanggala dan Sewaka di Bandung Utara dalam Mempertahankan Kemerdekaan Tahun 1945-1948” (2014), menyampaikan, awalnya kedatangan mereka hanya untuk membebaskan tentara Sekutu dari tahanan Jepang.

Namun, ternyata Belanda atau NICA membonceng pasukan Sekutu dan ingin menguasai Indonesia lagi. Bergolaklah perlawanan dari prajurit dan rakyat Indonesia atas kehadiran Belanda.

Kronologi Peristiwa Bandung Lautan Api

Pasukan Sekutu mulai melancarkan propaganda. Rakyat Indonesia diperingatkan agar meletakkan senjata dan menyerahkannya kepada Sekutu. Pihak Indonesia tidak menggubris ultimatum tersebut.

Angkatan perang RI merespons dengan melakukan penyerangan terhadap markas–markas Sekutu di Bandung bagian utara, termasuk Hotel Homan dan Hotel Preanger yang menjadi markas besar Sekutu, pada malam tanggal 24 November 1945.

Pada 27 November 1945, Kolonel MacDonald selaku panglima perang Sekutu sekali lagi menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat, Mr. Datuk Djamin, agar rakyat dan tentara segera mengosongkan wilayah Bandung Utara.

Peringatan yang berlaku sampai tanggal 29 November 1945 pukul 12.00 harus dipenuhi. Jika tidak, maka Sekutu akan bertindak keras.

Ultimatum kedua itu pun tidak digubris sama sekali. Beberapa pertempuran terjadi di Bandung Utara. Pos-pos Sekutu di Bandung menjadi sasaran penyerbuan.

Tanggal 17 Maret 1946, Panglima Tertinggi AFNEI di Jakarta, Letnan Jenderal Montagu Stopford, memperingatkan kepada Soetan Sjahrir selaku Perdana Menteri RI agar militer Indonesia segera meninggalkan Bandung Selatan sampai radius 11 kilometer dari pusat kota. Hanya pemerintah sipil, polisi, dan penduduk sipil yang diperbolehkan tinggal.

Menindaklanjuti ultimatum tersebut, pada 24 Maret 1946 pukul 10.00, Tentara Republik Indonesia (TRI) di bawah pimpinan Kolonel A.H. Nasution memutuskan untuk membumihanguskan Bandung.

Rakyat mulai diungsikan. Sebagian besar bergerak dari selatan rel kereta api ke arah selatan sejauh 11 kilometer. Gelombang pengungsian semakin membesar setelah matahari tenggelam.

Pembumihangusan Bandung pun dimulai. Warga yang hendak meninggalkan rumah membakarnya terlebih dahulu. Pasukan TRI punya rencana yang lebih besar lagi.

Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi “Bandoeng Laoetan Api”.

TRI merencanakan pembakaran total pada 24 Maret 1945 pukul 24.00, namun rencana ini tidak berjalan mulus karena pada pukul 20.00 dinamit pertama telah meledak di Gedung Indische Restaurant.

Lantaran tidak sesuai rencana, pasukan TRI melanjutkan aksinya dengan meledakkan gedung-gedung dan membakar rumah-rumah warga di Bandung Utara. Malam itu, Bandung terbakar dan peristiwa itu kemudian dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api.

Semangat yang dikobarkan oleh para pahlawan terdahulu perlu menjadi contoh bagi pemuda di masa kini. Pasalnya, perjuangan yang harus dihadapi pemuda bukan melawan penjajah akan tetapi berjuang untuk melawan Covid-19 selama 1 tahun ini. Demikian artikel tentang Hari Bandung Lautan Api 2021, Semoga bermanfaat.

Source: humas.bandung.go.id, wikipedia, tirto.id

Read previous post:
daftar universitas website dan medsos terbaik
Daftar Universitas Website dan Medsos Terbaik

Close